Tierraverde – Di tengah hiruk-pikuk kemacetan, klakson kendaraan, dan deretan bangunan kolonial yang menjadi ciri khas Yangon, berdiri sebuah monumen emas yang seolah menjadi poros bagi seluruh kehidupan di ibu kota lama Myanmar tersebut. Pagoda Sule (Sule Paya) bukan sekadar struktur religius; ia adalah titik nol kilometer Yangon, sebuah mercusuar spiritual yang telah menyaksikan transformasi negara ini selama ribuan tahun.
Berbeda dengan Pagoda Shwedagon yang megah dan terletak di atas bukit, Pagoda Sule justru berada tepat di jantung pusat bisnis dan pemerintahan. Keberadaannya yang unik di tengah bundaran jalan utama menjadikannya ikon yang tak terpisahkan dari identitas Yangon. Artikel ini akan membedah sejarah panjang, arsitektur yang memukau, hingga peran krusial Pagoda Sule dalam dinamika sosial-politik Myanmar.
Asal-Usul dan Legenda, Jejak 2500 Tahun Silam

Menurut catatan sejarah lisan dan kepercayaan setempat, Pagoda Sule telah berdiri selama lebih dari 2.500 tahun. Namanya berasal dari kata “Sularata”, yang merujuk pada roh pelindung (Nat) yang dipercaya bersemayam di bukit tempat pagoda tersebut didirikan.
Legenda menceritakan bahwa ketika situs untuk Pagoda Shwedagon sedang dicari, Raja Okkalapa mengadakan pertemuan di lokasi Pagoda Sule saat ini. Roh Nat yang tinggal di sini konon membantu para dewa dan raja dalam menemukan lokasi yang tepat untuk menyimpan relik rambut Buddha. Kepercayaan ini membuat Pagoda Sule memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi, hampir setara dengan Shwedagon, karena fungsinya sebagai “pembuka jalan” bagi situs tersuci di Myanmar.
Arsitektur Monolitik: Keunikan Struktur Oktagonal
Salah satu hal yang paling membedakan Pagoda Sule dari pagoda lainnya di Asia Tenggara adalah bentuk strukturnya. Jika mayoritas pagoda memiliki dasar bulat atau persegi, Pagoda Sule mempertahankan struktur oktagonal (segi delapan) dari dasar hingga ke puncaknya.
Struktur oktagonal ini memiliki makna simbolis yang mendalam dalam kosmologi Buddha, melambangkan Delapan Jalan Utama menuju pencerahan. Pagoda setinggi 44 meter ini dilapisi oleh lembaran emas murni yang berkilauan di bawah matahari tropis. Di sekeliling stupa utama, terdapat kuil-kuil kecil yang didedikasikan untuk hari-hari dalam seminggu (dalam kalender Burma, terdapat delapan hari karena Rabu dibagi menjadi pagi dan sore), di mana para peziarah memberikan persembahan air dan bunga kepada rupang Buddha sesuai hari kelahiran mereka.
Titik Nol Yangon: Warisan Perencanaan Kota Kolonial Inggris
Keberadaan Pagoda Sule di tengah persimpangan jalan bukanlah sebuah kebetulan semata. Saat Inggris menguasai Burma pada abad ke-19, mereka melakukan perombakan besar-besaran terhadap tata kota Yangon. Letnan Alexander Fraser, seorang insinyur militer Inggris, merancang kota dengan sistem kisi (grid) modern.
Alih-alih merobohkan pagoda kuno ini untuk membangun jalan, Inggris justru menjadikan Pagoda Sule sebagai titik pusat dari seluruh desain tata kota tersebut. Akibatnya, semua jalan utama di Yangon seolah-olah mengarah atau berpangkal dari pagoda ini. Inilah yang menjadikan Sule sebagai “Jantung” fisik kota, sebuah perpaduan unik antara spiritualitas Timur dan perencanaan urban Barat.
Pagoda Sule Sebagai Saksi Bisu Perjuangan Politik Myanmar

Sepanjang sejarah modern Myanmar, Pagoda Sule Myanmar sering kali berubah fungsi dari tempat ibadah menjadi pusat konsentrasi massa. Lokasinya yang strategis di pusat kota menjadikannya titik kumpul utama bagi berbagai gerakan pro-demokrasi.
Pagoda ini menjadi saksi bisu peristiwa berdarah 8888 Uprising pada tahun 1988 dan Revolusi Saffron pada tahun 2007 yang dipimpin oleh para biksu. Dalam momen-momen tersebut, gerbang pagoda menjadi garis depan antara demonstran dan aparat. Bagi rakyat Myanmar, Pagoda Sule melambangkan keteguhan hati; ia bukan hanya tempat untuk mencari kedamaian batin, tetapi juga simbol keberanian publik dalam memperjuangkan hak-hak sipil mereka.
Kehidupan Spiritual Sehari-hari di Dalam Lingkaran Sule
Meskipun dikelilingi oleh hiruk-pikuk lalu lintas yang padat, suasana di dalam kompleks Pagoda Sule tetaplah tenang dan sakral. Memasuki area pagoda mengharuskan setiap pengunjung untuk melepas alas kaki, sebuah tindakan penghormatan yang secara instan menghubungkan kita dengan energi bumi.
Di sini, Anda akan melihat penduduk lokal duduk bersila di ubin marmer yang sejuk, merapal doa di tengah aroma dupa yang harum. Selain sebagai tempat ibadah, bagian luar kompleks pagoda juga dipenuhi oleh para peramal telapak tangan, ahli astrologi, dan penjual bunga persembahan. Bagi warga Yangon, mampir ke Sule sebelum bekerja atau di sore hari adalah ritual untuk mendapatkan keberuntungan dan ketenangan di tengah tekanan hidup perkotaan.
Dinamika Lingkungan Sekitar: Perpaduan Etnis dan Agama
Satu hal yang paling menarik dari lokasi Pagoda Sule adalah keberagamannya. Hanya dalam radius beberapa ratus meter dari pagoda emas ini, Anda dapat menemukan Masjid Jami Chulia, Gereja Immanuel Baptist, dan kuil Hindu.
Fenomena ini menjadikan area Sule sebagai bukti nyata dari kemajemukan Yangon di masa lalu. Berjalan di sekitar pagoda memungkinkan wisatawan untuk melihat bagaimana berbagai budaya dan keyakinan hidup berdampingan di satu ruang publik yang sempit. Harmoni arsitektural antara stupa emas, menara gereja, dan kubah masjid menciptakan pemandangan yang jarang ditemukan di tempat lain di dunia.
Tips Berkunjung, Etika dan Waktu Terbaik

Untuk menikmati keindahan Pagoda Sule secara maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh wisatawan:
-
Pakaian: Pastikan bahu dan lutut tertutup. Penggunaan longyi (kain tradisional Myanmar) sangat disarankan untuk pria maupun wanita.
-
Waktu Terbaik: Datanglah saat matahari terbenam (sunset). Cahaya lampu yang menyorot stupa emas di bawah langit malam yang biru gelap menciptakan kontras yang luar biasa indah. Selain itu, suhu udara jauh lebih sejuk.
-
Biaya Masuk: Biasanya terdapat biaya tiket masuk untuk turis asing (sekitar 5.000 Kyat), yang digunakan untuk biaya pemeliharaan bangunan bersejarah ini.
Upaya Konservasi di Tengah Modernisasi Yangon
Sebagai bangunan yang telah berusia ribuan tahun, Pagoda Sule menghadapi tantangan besar akibat polusi udara dan getaran kendaraan dari jalan raya di sekelilingnya. Pemerintah Myanmar bersama dengan organisasi seperti Yangon Heritage Trust terus berupaya menjaga agar struktur ini tetap kokoh.
Pemugaran lapisan emas dilakukan secara berkala melalui sumbangan dari umat. Selain itu, pembatasan tinggi bangunan di sekitar area pusat kota dilakukan agar Pagoda Sule tetap menjadi elemen visual dominan yang tidak tertutup oleh gedung-gedung pencakar langit modern. Melindungi Sule berarti melindungi memori kolektif bangsa Myanmar.
Kesimpulan
Pagoda Sule adalah manifestasi dari jiwa Yangon. Ia berdiri tegak di persimpangan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh tantangan. Sebagai titik nol kilometer, ia mengukur jarak fisik; sebagai situs suci, ia mengukur kedalaman spiritualitas rakyatnya; dan sebagai pusat protes, ia mencatat denyut nadi perjuangan bangsa.
Mengunjungi Pagoda Sule bukan sekadar melihat tumpukan bata dan emas, melainkan merasakan detak jantung sebuah peradaban yang menolak untuk dilupakan oleh zaman. Di tengah deru mesin kota yang tak pernah tidur, emas Sule tetap bersinar, menawarkan pelukan damai bagi siapa saja yang bersedia melangkah masuk ke lingkarannya.

