Tierraverde – Di jantung hutan Kamboja, berdiri sebuah monumen megah yang menjadi bukti puncak peradaban manusia di Asia Tenggara. Angkor Thom, yang berarti “Kota Besar”, bukan sekadar kompleks candi biasa; ia adalah sebuah kota metropolitan pada zamannya, pusat saraf politik, spiritual, dan militer Kekaisaran Khmer yang legendaris. Dibangun pada akhir abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII, kota ini merupakan ibu kota terakhir dan yang paling bertahan lama dari kekaisaran tersebut.
Keagungan Angkor Thom melampaui sekadar arsitektur batu. Ia adalah perwujudan kosmologi Hindu-Buddha di atas tanah, sebuah kota yang dirancang untuk menjadi surga di dunia. Artikel ini akan menyingkap sejarah, filosofi, dan keajaiban arsitektur yang menjadikan Angkor Thom sebagai salah satu situs arkeologi paling penting di dunia.
Visi Raja Jayavarman VII, Kebangkitan dari Abu Peperangan di Angkor Thom

Latar belakang pembangunan Angkor Thom sangat berkaitan erat dengan masa-masa kelam Kekaisaran Khmer. Pada tahun 1177, bangsa Cham dari wilayah yang sekarang menjadi Vietnam menyerang dan menjarah ibu kota Khmer sebelumnya, Yasodharapura. Kekalahan ini merupakan hantaman keras bagi martabat bangsa Khmer.
Adalah Raja Jayavarman VII, seorang penganut Buddha Mahayana yang taat, yang berhasil mengusir bangsa Cham dan merebut kembali kedaulatan Khmer. Setelah naik takhta, ia memutuskan untuk membangun ibu kota baru yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih megah dari sebelumnya. Jayavarman VII tidak hanya ingin membangun benteng pertahanan, tetapi juga sebuah pusat spiritual yang menunjukkan bahwa kekuasaannya direstui oleh kekuatan ilahi.
Angkor Thom dibangun tepat di atas sebagian wilayah ibu kota lama, namun dengan konsep yang jauh lebih sistematis. Dengan luas wilayah mencapai 9 kilometer persegi, kota ini dikelilingi oleh tembok raksasa dan parit lebar, menciptakan sebuah benteng yang hampir mustahil ditembus pada masanya.
Kosmologi dalam Arsitektur: Gerbang Megah dan Jembatan Naga
Salah satu fitur paling ikonik dari Angkor Thom adalah tata letak kotanya yang mengikuti prinsip kosmologi Hindu-Buddha. Kota ini dirancang sebagai representasi mikrokosmos dari alam semesta. Tembok kota melambangkan pegunungan yang mengelilingi dunia, sementara parit yang mengelilinginya melambangkan samudra kosmik.
Untuk memasuki kota, terdapat lima gerbang raksasa yang terletak di empat arah mata angin, ditambah satu “Gerbang Kemenangan” yang menuju langsung ke arah Istana Kerajaan. Setiap gerbang memiliki ketinggian sekitar 23 meter dan dihiasi dengan wajah-wajah raksasa dari batu yang menghadap ke empat arah. Wajah-wajah ini diyakini sebagai perwujudan dari Lokesvara (Avalokitesvara) atau sang Raja sendiri yang mengawasi kerajaannya.
Di depan gerbang, pengunjung harus melewati jembatan yang diapit oleh 54 patung dewa di satu sisi dan 54 patung asura (raksasa) di sisi lainnya. Mereka terlihat sedang menarik tubuh naga raksasa Vasuki. Pemandangan ini merepresentasikan mitos “Pengadukan Samudra Susu” (Churning of the Ocean of Milk), sebuah kisah penciptaan dalam mitologi Hindu yang melambangkan pencarian keabadian.
Candi Bayon, Misteri Seribu Wajah di Pusat Kota

Tepat di pusat geometris Angkor Thom Kamboja berdiri candi yang paling misterius dan memukau: Candi Bayon. Jika Angkor Wat dikenal karena harmoni dan kemegahan klasiknya, Bayon dikenal karena kompleksitas dan aura magisnya. Bayon adalah candi negara yang didedikasikan untuk Buddha, menjadikannya unik di antara candi-candi Khmer lainnya yang mayoritas bersifat Hindu.
Fitur paling menonjol dari Bayon adalah 54 menara yang dihiasi dengan lebih dari 200 wajah raksasa yang tersenyum tenang. Senyum ini sering dijuluki sebagai “Senyum Angkor”. Wajah-wajah ini memancarkan ketenangan, belas kasih, sekaligus otoritas yang absolut.
Selain wajah-wajah tersebut, dinding-dinding Bayon dihiasi dengan relief rendah (bas-relief) yang sangat detail. Tidak seperti candi lain yang hanya menceritakan kisah dewa-dewi, relief di Bayon juga menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Khmer: pasar yang ramai, adu ayam, persalinan, hingga pertempuran laut yang hebat melawan bangsa Cham. Relief ini menjadi sumber sejarah primer yang tak ternilai bagi para arkeolog untuk memahami struktur sosial masyarakat Khmer kuno.
Teras Gajah dan Teras Raja Penderita Kusta
Berjalan ke arah utara dari Bayon, kita akan menemukan kompleks lapangan luas yang berfungsi sebagai pusat kegiatan publik dan seremonial kerajaan. Dua situs yang paling menonjol di sini adalah Teras Gajah dan Teras Raja Penderita Kusta.
Teras Gajah, sepanjang 300 meter, digunakan oleh Raja Jayavarman VII sebagai panggung untuk meninjau pasukannya yang baru kembali dari medan perang atau untuk menyaksikan pertunjukan di lapangan utama. Nama ini diambil dari ukiran gajah yang sangat detail di sepanjang dinding teras tersebut.
Di ujung utara terdapat Teras Raja Penderita Kusta (Terrace of the Leper King). Nama unik ini berasal dari sebuah patung yang ditemukan di sana yang tertutup lumut, memberikan kesan seperti kulit yang terkena penyakit kusta. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa teras ini berfungsi sebagai tempat kremasi kerajaan, sementara relief di dinding dalamnya yang menggambarkan dewa-dewa bawah tanah memperkuat teori bahwa area ini berkaitan dengan dunia kematian atau pemujaan leluhur.
Kehidupan Metropolitan, Sistem Air dan Populasi

Angkor Thom bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga salah satu pemukiman paling padat di dunia pada abad ke-13. Diperkirakan populasi yang tinggal di dalam dan sekitar tembok kota mencapai 80.000 hingga 150.000 jiwa. Kemampuan Khmer dalam mengelola air adalah kunci dari keberhasilan metropolitan ini.
Sistem irigasi yang rumit, termasuk kolam suci (Srah) dan kanal-kanal, memungkinkan masyarakat untuk bertani padi hingga tiga kali setahun. Air dialirkan dari sungai-sungai di pegunungan Kulen dan dikelola sedemikian rupa sehingga kota ini tetap subur baik di musim kemarau maupun musim penghujan. Keberhasilan dalam manajemen sumber daya alam inilah yang membiayai pembangunan candi-candi batu yang masif.
Seorang penjelajah Tiongkok bernama Zhou Daguan, yang mengunjungi Angkor Thom pada tahun 1296, menuliskan catatan yang sangat detail tentang kemakmuran kota ini. Ia menggambarkan kehidupan pasar yang sibuk, kemegahan prosesi emas sang Raja, hingga kebiasaan masyarakat setempat, yang memberikan gambaran bahwa Angkor Thom adalah sebuah kota yang sangat maju dan beradab.
