Tierraverde – Kamboja bukan hanya tentang kemegahan batu di Angkor Wat. Jika Anda ingin melihat denyut nadi kehidupan yang sebenarnya di Kerajaan ini, Anda harus mengarahkan pandangan ke Danau Tonle Sap. Sebagai danau air tawar terbesar di Asia Tenggara, Tonle Sap adalah keajaiban ekologi yang telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO.
Keunikan utama danau ini terletak pada fenomena hidrologinya yang langka: arah aliran airnya berubah dua kali dalam setahun, dan ukurannya bisa membengkak hingga lima kali lipat saat musim hujan. Bagi wisatawan, Danau Tonle Sap menawarkan jendela langka untuk melihat komunitas yang seluruh hidupnya—mulai dari rumah, sekolah, hingga gereja—mengapung di atas air. Berikut adalah panduan komprehensif untuk merencanakan petualangan Anda di “Jantung Kamboja”.
Memahami Ekosistem Danau Tonle Sap, Danau yang Bernapas

Danau Tonle Sap secara harfiah berarti “Danau Air Tawar Besar”. Danau ini terhubung dengan Sungai Mekong melalui Danau Tonle Sap. Selama musim kemarau (November hingga Mei), air mengalir dari danau menuju Sungai Mekong. Namun, saat musim hujan tiba, volume air Sungai Mekong menjadi sangat besar sehingga mendorong aliran air kembali ke atas, mengisi danau hingga meluap ke hutan-hutan di sekitarnya.
Fenomena ini menciptakan lahan basah yang sangat subur, menjadikannya salah satu tempat penangkapan ikan air tawar paling produktif di dunia. Bagi para pelancong, memahami siklus ini sangat penting karena pemandangan yang Anda lihat akan sangat berbeda tergantung pada kapan Anda berkunjung.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung: Musim vs. Pengalaman
Menentukan waktu kunjungan adalah kunci utama kenyamanan Anda di Danau Tonle Sap. Karena kedalaman air bisa bervariasi antara 1 meter hingga 10 meter, atmosfer dan aksesibilitasnya akan berubah drastis.
-
Musim Hujan (Juni – Oktober): Ini adalah waktu di mana danau sedang dalam kondisi “penuh”. Hutan rawa di sekitar danau akan terendam air, menciptakan pemandangan hijau yang dramatis. Desa-desa terapung akan benar-benar mengapung tinggi di atas air. Kekurangannya adalah hujan yang sering turun dapat mengganggu perjalanan perahu.
-
Musim Kemarau (November – Mei): Air perlahan menyusut. Bulan Desember hingga Februari sering dianggap sebagai waktu terbaik karena cuaca yang sejuk dan air masih cukup tinggi untuk navigasi perahu yang lancar.
-
Peringatan Akhir Musim Kemarau (Maret – Mei): Pada periode ini, air berada di titik terendah. Danau mungkin terlihat lebih berlumpur, aroma air menjadi lebih kuat, dan kapal seringkali tersangkut di sedimen.
Akses Menuju Danau Tonle Sap: Perjalanan dari Siem Reap
Sebagian besar wisatawan mengakses Danau Tonle Sap melalui kota Siem Reap, yang hanya berjarak sekitar 15 hingga 30 kilometer tergantung desa mana yang ingin dikunjungi.
-
Tuk-Tuk: Cara paling populer dan terjangkau. Perjalanan memakan waktu sekitar 30-45 menit. Anda bisa menikmati pemandangan pedesaan Kamboja sepanjang jalan.
-
Sewa Taksi/Mobil Pribadi: Lebih nyaman bagi grup besar atau saat cuaca sangat panas.
-
Tur Terorganisir: Banyak agen perjalanan di Siem Reap menawarkan paket setengah hari yang sudah termasuk jemputan hotel, tiket kapal, dan pemandu lokal. Ini adalah pilihan paling praktis bagi mereka yang tidak ingin repot mengurus logistik sendiri.
Menjelajahi Desa Terapung Chong Kneas

Chong Kneas adalah desa terapung yang paling dekat dengan Siem Reap. Karena aksesnya yang sangat mudah, desa ini menjadi yang paling padat dikunjungi wisatawan.
Di sini, Anda akan melihat rumah-rumah, klinik, dan toko-toko yang dibangun di atas ponton kayu atau drum plastik yang diikat. Namun, perlu dicatat bahwa karena komersialisasi yang tinggi, beberapa wisatawan merasa tempat ini terlalu “turistik” dan terkadang ada upaya penipuan kecil terkait pembelian beras untuk panti asuhan. Jika Anda mencari kenyamanan akses, Chong Kneas adalah tempatnya, namun jika Anda mencari otentisitas, Anda mungkin perlu melirik desa lain.
Pesona Kompong Phluk: Desa Hutan Bakau
Terletak lebih jauh dari Chong Kneas, Kompong Phluk menawarkan pengalaman yang lebih tenang dan visual yang unik. Desa ini sebenarnya bukan “terapung”, melainkan rumah-rumahnya dibangun di atas tiang-tiang kayu (stilt houses) yang tingginya mencapai 6 hingga 9 meter.
Saat musim hujan, tiang-tiang ini tersembunyi di bawah air sehingga rumah terlihat seolah mengapung. Namun di musim kemarau, rumah-rumah ini tampak menjulang tinggi seperti menara kayu. Di sini, Anda juga bisa menaiki perahu kecil yang didayung oleh wanita lokal untuk menjelajahi Hutan Bakau (Flooded Forest) yang sangat indah dan tenang.
Kompong Khleang: Desa Terbesar yang Autentik
Bagi penjelajah yang mencari pengalaman paling autentik dan jauh dari kerumunan, Kompong Khleang adalah destinasi terbaik. Ini adalah komunitas terbesar di Danau Tonle Sap Kamboja, terletak sekitar 50 km dari Siem Reap.
Desa ini memiliki populasi yang besar dengan struktur bangunan permanen yang menakjubkan di atas tiang-tiang tinggi. Karena jaraknya yang jauh, turis yang datang ke sini jauh lebih sedikit, sehingga interaksi Anda dengan warga lokal akan terasa lebih tulus. Anda bisa melihat aktivitas sehari-hari seperti nelayan yang memperbaiki jaring atau anak-anak yang mendayung perahu menuju sekolah dengan sangat mahir.
Cagar Burung Prek Toal, Surga bagi Pengamat Burung

Jika Anda pencinta alam liar, pastikan Prek Toal masuk dalam daftar kunjungan Anda. Terletak di sudut barat laut danau, tempat ini adalah rumah bagi ribuan burung air langka, termasuk Bangau Bluwok (Painted Stork), Pelikan Paruh Spot (Spot-billed Pelican), dan Ibis Kepala Hitam.
Kunjungan ke Prek Toal membutuhkan waktu sehari penuh dan biaya yang lebih mahal karena lokasinya yang terpencil. Waktu terbaik untuk melihat konsentrasi burung terbesar adalah antara bulan Desember hingga Maret.
Tips Penting dan Etika Berwisata
Berwisata ke Danau Tonle Sap adalah tentang menghargai komunitas yang hidup di sana. Berikut beberapa tips agar perjalanan Anda menyenangkan dan bertanggung jawab:
-
Pakaian: Kenakan pakaian yang sopan (menutup bahu dan lutut) jika Anda berniat mengunjungi kuil atau pagoda di sekitar danau.
-
Perlindungan Matahari: Bawa topi, kacamata hitam, dan tabir surya. Pantulan sinar matahari di permukaan air bisa sangat menyengat.
-
Uang Tunai: Siapkan uang tunai dalam mata uang Riel atau Dollar AS (pecahan kecil) untuk membayar biaya kapal atau membeli minuman.
-
Hargai Privasi: Ingatlah bahwa desa-desa ini adalah tempat tinggal orang, bukan kebun binatang. Mintalah izin sebelum mengambil foto orang atau bagian dalam rumah mereka secara jarak dekat.
-
Hati-Hati Penipuan: Abaikan jika ada yang meminta Anda membeli beras dalam jumlah besar dengan harga mahal untuk “donasi”. Jika ingin membantu, lebih baik menyumbang ke lembaga resmi yang terpercaya.
Keajaiban Cair yang Tak Terlupakan
Wisata ke Danau Tonle Sap akan memberikan Anda perspektif baru tentang ketangguhan manusia dan keajaiban adaptasi alam. Melihat bagaimana sebuah komunitas bisa hidup harmonis dengan siklus air yang fluktuatif adalah pengalaman yang sangat berkesan. Baik Anda memilih ketenangan Kompong Phluk atau skala raksasa Kompong Khleang, Danau Tonle Sap akan memberikan memori yang melengkapi kemegahan sejarah Angkor Wat.
Setelah membaca panduan ini, apakah Anda berencana untuk mengunjungi desa-desa terapung ini sebagai bagian dari perjalanan utama Anda ke Angkor Wat, atau apakah Anda sedang merancang rute perjalanan khusus yang berfokus pada wisata alam dan budaya pedesaan di Kamboja?
