Tierraverde – Di balik tirai pariwisata Asia Tenggara yang didominasi oleh hiruk-pikuk Phuket di Thailand atau ketenaran Bali di Indonesia, tersimpan sebuah rahasia besar di lepas pantai selatan Myanmar. Kepulauan Mergui, atau yang dikenal secara lokal sebagai Kepulauan Myeik, adalah gugusan lebih dari 800 pulau yang tersebar di Laut Andaman. Kawasan ini sering disebut sebagai salah satu “garis depan terakhir” pariwisata dunia—sebuah tempat di mana alam masih memerintah dengan kedaulatan penuh, jauh dari jangkauan komersialisasi massal dan kerumunan turis.
Bagi mereka yang mendambakan petualangan sejati, Mergui menawarkan pemandangan yang seolah keluar dari film dokumenter alam liar. Air laut yang bening seperti kristal, pantai pasir putih yang belum terinjak kaki manusia, serta hutan hujan rimbun yang menempel di tebing-tebing kapur, menciptakan simfoni visual yang memukau. Menjelajahi Kepulauan Mergui bukan sekadar liburan biasa; ini adalah perjalanan kembali ke masa lalu, di mana manusia dan alam hidup dalam keselarasan yang murni.
Geografi dan Akses Kepulauan Mergui, Gerbang Menuju Dunia yang Terlupakan

Kepulauan Mergui terletak di wilayah Tanintharyi, memanjang dari utara ke selatan di sepanjang pesisir Myanmar. Selama berdekade-dekade, wilayah ini ditutup rapat dari dunia luar oleh pemerintah Myanmar, yang menjadikannya salah satu kawasan maritim yang paling terjaga ekosistemnya di dunia. Baru pada akhir tahun 1990-an, kawasan ini mulai dibuka secara terbatas untuk kapal pesiar asing, namun hingga hari ini, aksesnya tetap eksklusif dan terkontrol.
Untuk mencapai surga ini, para pelancong biasanya berangkat dari kota pelabuhan Kawthaung, yang berbatasan langsung dengan Ranong di Thailand. Perjalanan menuju pulau-pulau inti membutuhkan waktu beberapa jam menggunakan perahu motor atau kapal pesiar (liveaboard). Jaraknya yang jauh dan infrastruktur darat yang minim adalah alasan utama mengapa tempat ini tetap menjadi surga tersembunyi—hanya mereka yang memiliki niat kuat dan jiwa petualang yang benar-benar bisa menjejakkan kaki di sini.
Keindahan Bawah Laut yang Tak Tertandingi
Jika Anda berpikir telah melihat terumbu karang terbaik di dunia, Kepulauan Mergui akan menantang persepsi tersebut. Karena minimnya polusi dan aktivitas industri, ekosistem bawah laut di sini berada dalam kondisi yang luar biasa prima. Mergui adalah rumah bagi beberapa situs menyelam terbaik di Asia Tenggara, seperti Western Rocky dan Burma Banks.
Di bawah permukaan air, penyelam dapat menjumpai pemandangan yang dramatis: gua-gua bawah laut, terowongan, dan tebing karang yang dihuni oleh hiu perawat, hiu karang sirip hitam, hingga pari manta yang megah. Selain mamalia besar, keberagaman makro di sini juga sangat kaya, dengan kuda laut, nudibranch berwarna-warni, dan berbagai jenis krustasea yang jarang ditemukan di tempat lain. Bagi pecinta snorkeling, kejernihan airnya memungkinkan Anda melihat dasar laut dari permukaan dengan detail yang menakjubkan.
Mengenal Suku Moken: Para “Gipsi Laut” yang Legendaris
Salah satu aspek yang paling menarik dari Kepulauan Mergui bukan hanya alamnya, melainkan penghuninya. Kawasan ini adalah rumah bagi Suku Moken, kelompok etnis nomaden laut yang telah mendiami pulau-pulau ini selama berabad-abad. Mereka sering disebut sebagai “Sea Gypsies” atau Gipsi Laut karena gaya hidup mereka yang berpindah-pindah menggunakan perahu tradisional yang disebut kabang.
Suku Moken memiliki kemampuan unik, seperti kemampuan menyelam bebas hingga kedalaman puluhan meter tanpa alat bantu dan kemampuan mata untuk melihat dengan sangat jelas di bawah air. Bertemu dengan mereka memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana manusia bisa hidup tanpa ketergantungan pada teknologi modern. Namun, modernisasi mulai mengancam tradisi mereka, sehingga mengunjungi Mergui sekarang adalah kesempatan langka untuk melihat sisa-sisa budaya maritim asli sebelum mereka benar-benar berasimilasi dengan kehidupan darat.
Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan dan Satwa Endemik

Keindahan Mergui tidak berhenti di garis pantai. Bagian dalam dari pulau-pulau besar ditutupi oleh hutan hujan tropis primer yang sangat lebat. Hutan-hutan ini menjadi benteng terakhir bagi berbagai satwa liar, termasuk monyet pemakan kepiting, babi hutan, kadal monitor raksasa, dan berbagai spesies burung eksotis seperti burung enggang (hornbill) dan elang laut perut putih.
Beberapa pulau memiliki sistem hutan bakau yang luas dan labirin sungai kecil yang bisa dijelajahi menggunakan kayak. Menelusuri sungai di tengah hutan bakau yang sunyi, dengan hanya suara kicauan burung dan gemericik air, memberikan sensasi kedamaian yang sulit ditemukan di kota besar. Di malam hari, jika Anda beruntung, Anda bisa melihat fenomena bioluminescence, di mana plankton di air memancarkan cahaya biru neon saat terkena gerakan, menciptakan efek bintang yang berpindah ke laut.
Destinasi Pulau Unggulan yang Wajib Dikunjungi
Meskipun ada ratusan pulau, beberapa di antaranya telah menjadi favorit bagi para penjelajah karena keunikan karakternya:
-
Pulau Lampi: Merupakan Taman Nasional Laut pertama di Myanmar. Pulau ini memiliki garis pantai yang panjang dengan hutan bakau yang megah dan pantai-pantai rahasia yang tersembunyi di balik teluk kecil.
-
Pulau Nyaung Wee: Tempat yang ideal untuk berinteraksi dengan komunitas lokal dan menikmati keindahan pantai pasir putih yang luas.
-
Pulau 115: Terkenal dengan airnya yang sangat dangkal dan tenang, sangat cocok untuk aktivitas snorkeling bagi pemula dan fotografer bawah air.
-
MacLeod Island: Salah satu dari sedikit pulau yang memiliki resor ramah lingkungan kelas atas, memberikan kenyamanan di tengah belantara liar.
Tantangan dan Pelestarian, Menjaga Keseimbangan Alam

Kepulauan Mergui menghadapi tantangan besar antara potensi ekonomi dari pariwisata dan kebutuhan untuk melestarikan alam. Praktik penangkapan ikan dengan dinamit di masa lalu sempat merusak beberapa titik karang, namun berkat upaya konservasi dari pemerintah dan organisasi internasional, kawasan ini mulai pulih.
Sebagai pelancong, prinsip low-impact travel sangat ditekankan di sini. Tidak ada hotel beton bertingkat atau klub malam yang bising. Mayoritas akomodasi berbentuk kapal pesiar atau kemah mewah yang ramah lingkungan. Dengan membatasi jumlah pengunjung, diharapkan ekosistem Kepulauan Mergui tetap terjaga keasliannya untuk generasi mendatang. Pengunjung diajak untuk menjadi bagian dari solusi, bukan polusi, dengan membawa kembali sampah mereka dan menghormati adat istiadat Suku Moken.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung dan Persiapan
Karena letak geografisnya, waktu kunjungan ke Kepulauan Mergui Myanmar sangat bergantung pada musim monsun. Waktu terbaik untuk menjelajah adalah antara November hingga April. Selama bulan-bulan ini, laut sangat tenang, langit cerah, dan jarak pandang di bawah air mencapai puncaknya. Di luar bulan-bulan tersebut, ombak bisa sangat tinggi dan banyak kapal pesiar berhenti beroperasi demi keamanan.
Persiapan fisik juga penting, karena ini adalah perjalanan di daerah terpencil. Pastikan Anda membawa persediaan obat-obatan pribadi, tabir surya yang aman bagi terumbu karang, dan pakaian yang nyaman untuk kegiatan luar ruangan. Jangan lupa untuk mengurus izin masuk atau visa Myanmar jauh-jauh hari, karena masuk ke wilayah Kawthaung memerlukan dokumen khusus bagi warga negara asing.
Mengapa Mergui Harus Ada dalam Daftar Perjalanan Anda?
Kepulauan Mergui bukan sekadar destinasi; ia adalah sebuah pengalaman spiritual. Di tempat ini, Anda akan menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kemegahan alam. Ketiadaan sinyal ponsel dan internet di sebagian besar wilayah kepulauan justru menjadi berkah tersembunyi, memungkinkan Anda untuk benar-benar “lepas” dari dunia luar dan terhubung kembali dengan diri sendiri.
Mergui menawarkan kemewahan dalam bentuk yang paling murni: keheningan, udara bersih, dan kejutan alam di setiap belokan perahu. Bagi Anda yang sudah bosan dengan destinasi yang “Instagrammable” namun penuh sesak, Kepulauan Mergui adalah jawaban. Ini adalah tempat di mana Anda tidak hanya melihat keindahan, tetapi merasakannya melalui setiap indra.
